Dirilis

04 Januari 2019

Penulis

Tim Daya Tumbuh Usaha

Di tahun 2010 saja, sekitar 68 juta orang penduduk Indonesia adalah generasi Z dan ini adalah pasar masa depan untuk pengusaha yang jeli dan cerdas.

Sebagai informasi tambahan, 62% konsumen pembeli elektronik adalah generasi Z. Ini berarti generasi Z memiliki andil besar dalam perputaran ekonomi. Generasi Z adalah masa depan. Penting untuk para pelaku bisnis memahami perilaku dan kebiasaan mereka. Sayangnya, banyak produsen yang menyamakan generasi Z dengan generasi milenial dalam pola pemasaran produk dan jasa mereka. Padahal, generasi Z sangat berbeda dengan generasi Z. Promosi ala milenial tidak akan masuk di kepala mereka, jadi lupakan saja niat menjadi top of mind brand bila tidak segera mengganti strategi. Strategi pertama, mari mengenal karakter belanja atau perilaku gaya hidup para Z.

1. Cepat bosan dan kurang fokus
Sebagai “pribumi” internet, wajar bila generasi Z menerima lebih banyak informasi dari generasi milenial. Perpindahan informasi dari satu hal ke hal berikutnya sangat cepat. Oleh karena itu, Anda harus terus memberikan sesuatu yang baru atau mereka akan merasa bosan dan meninggalkannya.

2. Ekspektasi tinggi
Meski cepat bosan, mereka memiliki ekspektasi lebih tinggi pada sebuah mereka dibanding milenial. Bila mereka merasa mendapat nilai lebih, dihargai, diapresiasi, dan mendapat apresiasi maka mereka akan dengan loyal menjadi endorser gratis untuk merek Anda. Untuk itu, terus tingkatkan kualitas produk dan layanan bisnis Anda.  

3. Diskon = Cara Jadul
Bagi para milenial, memberi diskon menjadi sesuatu yang menarik. Tapi tidak bagi generasi Z. Menurut studi yang dimuat di Hufftington Post, hanya 46% para Z yang mau mengunjungi sebuah situs karena iming-iming diskon. Kecuali, diskon itu sangat menguntungkan bagi mereka.
 
4. Tempat favorit belanja: Mal
Ini mungkin sedikit mengaggetkan. Sebagai generasi yang mengakses internet lebih dari 3-5 jam sehari, para Z justru memilih mal sebagai tempat belanja mereka. Dibandingkan para milenial, generasi Z didominasi oleh para konsumen yang malas berbelanja online. Internet adalah sumber referensi mereka sebelum membeli barang di mal. Jadi, isu mal tutup dengan gempuran marketplace, rasanya menjadi sebuah teori anomali bagi generasi Z.

5. Kampanye kekinian: micro-storytelling
Untuk dapat dilirik para Z dalam keriuhan informasi internet sebagai sumber referensi utama mereka, Anda harus memiliki cara promosi dengan “bahasa” para Z.  Konten promosi micro-storytelling berbentuk video menjadi konten yang lebih mudah diterima mereka. Fitur media sosial, seperti Instagram Story atau SnapChat Story lebih mudah dilirik para Z yang menyukai hal singkat dan padat.

Digital akan menjadi platform utama dalam melakukan kampanye dan pendekatan mereka pada Z, tentunya diikuti konten kampanye yang sesuai, produk berkualitas tinggi, dan pelayanan yang unggul. Nah, kini saatnya evaluasi bisnis Anda karena tahun 2050 nanti, kurang lebih 40% dari penduduk dunia adalah para generasi Z.

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS