Dirilis

24 Mei 2022

Penulis

Thomas Aquino Herly Marwanto

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang memutuskan untuk membeli suatu produk. Ada yang karena faktor harga yang lebih hemat, akses yang lebih gampang, maupun karena faktor pilihan yang lebih banyak.  

Akan tetapi, terdapat satu hal lagi yang juga sangat mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli, yakni emosi. 

Sebagian orang membeli produk, lebih berdasarkan emosi daripada dengan logika. Bahkan ada suatu pernyataan yang menyebutkan seperti ini: kesadaran dan relevansi akan membuat merek kuat dan besar, namun emosional mampu membuat merek hebat. 

Jadi melalui emosi konsumen ini, perusahaan dapat menggunakan strategi emotional branding  untuk menciptakan ikatan kuat dengan pelanggan, serta untuk membangun laba dan loyalitas konsumen. Branding adalah sarana membuat identitas, yang akan dapat membedakan antara satu produk atau jasa suatu perusahaan dengan kompetitornya.

 

Manfaat Emotional Branding melalui Isu-Isu Sosial & Lingkungan

Untuk menciptakan emotional branding dengan konsumen, salah satu caranya adalah dengan mengangkat keterlibatan aktif perusahaan dalam menangani isu-isu sosial dan lingkungan yang ada di masyarakat. Di zaman sekarang, istilahnya aktif melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan.

Kini perusahaan yang mendedikasikan keberadaannya untuk isu-isu sosial dan lingkungan biasanya mendapatkan perhatian lebih dari konsumen. Konsumen yang memiliki akses sulit untuk membantu sesama, lebih cenderung menuangkannya dalam wujud konsumsi. Mereka akan membeli produk yang bisa menghubungkan mereka kepada orang, masyarakat, atau lingkungan yang membutuhkan tanpa repot. Konsumen akan merasa tulus menghabiskan uang kepada brand Anda karena mengetahui hasilnya akan memberikan manfaat yang baik kepada pihak lain. 

 

Branding Melalui Pelaksanaan Corporate Social Responsibility

Dalam dekade terakhir ini, semakin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan atau sering disebut dengan Corporate Sosial Responsibility (disingkat menjadi CSR) untuk branding perusahaan maupun produknya. 

Corporate Social Responsibility adalah konsep yang ingin menunjukkan tanggung jawab perusahaan terhadap seluruh pemangku kepentingannya, seperti pemegang saham, karyawan, konsumen, masyarakat, dan lingkungan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.  

Konsep ini terkait dengan konsep pembangunan berkelanjutan, yang menyatakan bahwa perusahaan dalam melaksanakan operasional usahanya harus mempertimbangkan  keputusannya tidak semata berdasarkan aspek ekonomi (tingkat keuntungan atau dividen), namun juga harus menimbang dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari keputusan yang dibuat, baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Info lebih lengkap silakan baca Program CSR Mendukung Keberlanjutan Bisnis

Berdasarkan laporan KPMG (sebuah perusahaan global independen yang menyediakan jasa audit serta konsultan) di tahun 2017, disampaikan bahwa 93 persen perusahaan yang masuk kategori 250 perusahaan terbesar di dunia melaporkan pelaksanaan kegiatan CSR yang dilakukan. Hal ini dikarenakan CSR sudah dianggap sebagai salah satu atribut kunci yang menentukan reputasi yang baik terhadap brand perusahaan.

Michael Porter, mahaguru bidang strategi perusahaan, memilik perspektif yang serupa tentang CSR. Dia meyakinkan para pebisnis bahwa tanggung jawab sosial perusahaan harus menjadi jantung strategi perusahaan dan apabila dilakukan dengan serius akan menjadi sumber keunggulan bersaing yang sangat kuat. 

Hal tersebut semakin memperkuat hasil survei "The Millenium Poll on CSR" (1999) yang dilaksanakan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) bersama dengan Prince of Wales Business Leader Forum (London) terhadap 25.000 responden dari 23 negara.  Hasil survei menunjukkan bahwa yang membentuk opini perusahaan adalah 60% dari pelaksanaan etika bisnis, praktik terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan. Jadi makin jelas bahwa Corporate Social Responsibility paling berperan membentuk opini terhadap perusahaan. Sedangkan 40% lainnya menyatakan bahwa citra perusahaan & brand image-lah yang paling mempengaruhi opini mereka.
 
Yang tidak kalah menarik dari survei tersebut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan tanggung jawab sosial adalah ingin "menghukum" (40%), dan sebanyak 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan dan/atau bicara kepada orang lain terkait kekurangan perusahaan tersebut. 

 

Milenial serta Isu-Isu Sosial dan Lingkungan

Nah, apabila produk yang Anda tawarkan adalah untuk segmen generasi milenial atau generasi yang lahir antara tahun 1981-1996, perlu Anda ketahui bahwa konsumen milenial Indonesia, makin sadar akan masalah lingkungan maupun sosial.  

Hasil riset global berjudul "An EcoWakening" yang dikerjakan oleh The Economist Intelligence Unit dan WWF tahun 2021, memperlihatkan bahwa kesadaran dan keterlibatan milenial terhadap isu-isu sosial  dan lingkungan telah meningkat sebesar 53%. Salah satu parameternya yaitu peningkatan 24% dalam hal penelusuran online guna mencari produk-produk yang menerapkan prinsip berkelanjutan (sustainable).
 
Penelitian 'WhoCares? WhoDoes? 2020' dari Kantar juga makin menguatkan. Disampaikan bahwa jumlah konsumen yang memiliki kepedulian terhadap produk ramah lingkungan di Indonesia telah meningkat 112% dari 2019 ke 2020. Tak hanya isu lingkungan, konsumen Indonesia ternyata juga lebih kritis terhadap isu-isu sosial tatkala memilih produk. Dinyatakan bahwa sebanyak 74% konsumen cenderung memilih brand yang memiliki kepedulian sosial.

Hal senada terlihat di masa pandemi. Penelitian Deloitte menunjukkan bahwa sebanyak 29% konsumen Indonesia memiliki rasa empati yang lebih tinggi, sehingga mereka lebih memilih produk-produk dari perusahaan yang memiliki tanggung jawab terhadap isu sosial.

Nah, dari data-data tersebut di atas dapat dikatakan bahwa branding melalui isu-isu sosial menjadi hal yang sifatnya strategis, terlebih bila segmentasi produk Anda adalah segmen milenial karena mereka segmen pasar yang aktif mencari brand ataupun produk yang mampu mendorong dan mengaktivasi perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

 

Pilihan Media Sosial Tepat, Branding Makin Kuat

Apabila Anda sudah yakin penting dan mendesaknya branding melalui isu-isu sosial dan lingkungan, langkah selanjutnya adalah menentukan channel apa yang tepat untuk proses digital branding. Digital branding adalah teknik membangun nama dan image sebuah brand atau produk di dunia digital. 

Mengapa harus digital? Ya, karena saat ini dunia digital telah berkembang sangat pesat.  Ketepatan pemilihan channel dan konsistensi branding melalui isu sosial merupakan tantangan bagi setiap pemilik bisnis, apalagi dengan banyaknya jenis media sosial saat ini seperti Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn, dan YouTube. Setiap media sosial  memiliki karakteristik yang cukup berbeda. Contohnya, orang-orang dari generasi X, Y, dan Z yang umurnya lebih tua biasanya lebih suka menggunakan Facebook, sedangkan generasi milienial atau kaum remaja lebih suka menggunakan Twitter, Instagram, Tiktok. Kemudian, para karyawan/profesional lebih suka memanfaatkan LinkedIn dan YouTube sebagai platform media sosial mereka.

Anda harus bisa memastikan bahwa isu-isu sosial dan lingkungan yang Anda sampaikan untuk branding di setiap platform itu sama-sama tersampaikan dengan baik. Untuk audience yang berbeda, maka cara penyampaiannya pun harus berbeda juga.

Anda juga tidak perlu berada dalam semua jejaring media sosial yang ada. Lebih baik memfokuskan brand Anda dengan media sosial yang sesuai target audience dari brand Anda. Namun jangan sampai hal ini, malah membatasi jangkauan dari brand Anda.

Penting memiliki banyak followers, namun memiliki puluhan followers yang membeli produk Anda jauh lebih baik daripada memiliki ribuan followers yang tidak membeli produk Anda. Jangan sampai terlena oleh jumlah followers.  Unggah konten terkait implementasi Corporate Social Responsibility  secara rutin untuk agar persepsi dan kredibilitas brand anda semakin kuat. Untuk info lebih lanjut baca juga artikel 4 Tip Maksimalkan Promosi di Media Sosial.

Jadi dari hasil riset menunjukkan bahwa branding perusahaan atau produk akan efektif bila terkait dengan isu-isu sosial dan lingkungan yang dikelola oleh perusahaan. Kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) bukan lagi sekedar kegiatan charity, misalnya memberi sumbangan beras, memberikan bantuan pembangunan tempat ibadah.  Kegiatan CSR adalah bagian dari kegiatan bisnis perusahaan secara keseluruhan. Agar proses branding menjadi kuat, pemilihan media sosial yang tepat dan konsistensi dalam penyampaian informasi sangat diperlukan.

Masih ada banyak cara untuk meningkatkan branding, apabila Anda ingin tahu lebih lanjut dari ahlinya, silakan daftar dan manfaatkan fitur Tanya Ahli di daya.id.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

5.0

1 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS